animasi blog

Selasa, 02 Oktober 2012

Teori-Teori Belajar Awal

Studi Watson tentang perilaku dengan tujuan menjelaskan hubungan antara stimuli dan respons menjadi perspektif dominan di tahun 1920-an hingga 1950-an.  Asumsi utama behaviorisme adalah bahwa perilaku yang dapat diamati adalah fokus studi, yang harus dipelajari adalah elemen paling sederhana dari perilaku, dan proses belajar adalah perubahan behavioral. Pendapat yang menentangnya yakni Psikologi Gestalt, menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognisi.
Dua pendekatan awal untuk mempelaajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme. John Watson mendukung studi perilaku karena menurutnya semua organism menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respon tersebut biasanya disebabkan oleh stimuli. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respon yang ditimbulkan lewat stimulus. Setelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflex-motorik dari psikolog Rusia, V.M. Bekheterev. Watson makin percaya bahwa kontrol perilaku di dunia nyata akan segera dapat dilakukan, namun prediksinya keliru.
Ada 3 asumsi dasar tentang belajar mengenai istilah behaviorisme:
1.       Yang menjadi focus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.       Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik).
3.       Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respon khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Melatih reflex untuk merespon stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus yang secara alamiah yang memunculkan reflex. Ini disebut pengkondisian klasik. Dalam perkembangannya ada yang disebut amplitudo (jumlah atau kekuatan respon), latensi (lamanya waktu antara stimulus dan respons, generalisasi stimulus (tendensi stimuli yang sama untuk memunculkan reflex. Hal lain yang dapat diukur adalah retensi terhadap pelenyapan (extinction) dan hambatan (inhibition).
2 Akibat yang bertahan lama dari pengkondisian Pavlovian adalah:
1.       Munculnya riset terhadap kelangsungan hidup hewan di lingkungan alam
2.       Perkembangan proses yang disebut kontra pengkondisian (counter-conditioning)
Reaksi terhadap isyarat sebelum datangnya makanan, juga menjelaskan relasi yang terjadi di dalam laboratorium dan studi klinis terhadap kecanduan obat. Setelah beberapa kali pemberian obat, petunjuk yang diasosiasikan dengan pemberian obat akan menyebabkan respons yang disebut CCR (Conditional-compensatory Respons).
BEHAVIORISME JOHN WATSON
                Watson memberi kontribusi pada perkembangan psikologi melalui 3cara:
1.       Watson mengorganisasikan temuan riset pengkondisian ke dalam perspektif baru, yakni behaviorisme dan membujuk psikolog lain untuk memahami arti penting dari pendapatnya.
2.       Kontribusi asli dari karyanya adalah memperluas metode pengkondisian klasik ke respons emosional pada manusia.
3.       Karyanya meningkatkan status belajar sebagai topic dalam psikologi.

Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/ kejadian ke objek atau kejadian lainnya. Namun, dia tidak sepakat dengan metode psikoanalisis Freud untuk menemukan akar dari kehidupan emosi individu (menelusuri memori kanak-kanak dan kejadian yang memicu emosi). Watson berpendapat bahwa proses ini melibatkan pengkondisian atas 3 reaksi dasar (cinta, marah, takut).
                Topik yang terkait, eliminasi atau “unconditioning” reaksi rasa takut anak dirintis oleh Mary Cover Jones. Dia menemukan bahwa usaha untuk membicarakan rasa takut si anak atau mengandalkan pelenyapan (extinction) untuk mengeliminasi rasa takut adalah tidak efektif. Contoh positif dari pengkondisian klasik adalah reaksi munculnya kenangan (respons) terhadap lagu (stimulus yang dikondidikan) yang popular saat seseorang berpacaran. Lagu itu memiliki kekuatan untuk menimbulkan perasaan yang sama seperti saat berpacaran waktu itu. Reaksi emosional itu sering terjadi tanpa disadari, jadi asal mulanya mungkin sulit untuk diidentifikasi.
Koneksionisme Edward Thorndike
Teori koneksionisme Thorndike berbeda dengan teori pengkondisian klasik dimana Thorndike tertarik dengan proses mental (mendesain eksperimen untuk meneliti proses pemikiran binatang) dan ia juga meneliti perilaku mandiri atau sukarela.
Prosedur Ekperimental
Thorndike bereksperimen dengan berbagai macam binatang seperti anak ayam, anjing, ikan, kucing dan monyet dimana ia menggunakan kotak puzzle yang mengharuskan binatang menekan atau menyentuh tuas agar dapat keluar dan mendapatkan makanan. Pada awalnya hewan sering melakukan perlawanan dengan perilaku, seperti mencakar, menggigit, menggaruk dan menggesek-gesekkan badan ke sisi sangkar sehingga akhirnya mereka dapat menekan tuas dan keluar dari kotak tersebut. Dari seluruh binatang yang dijadikan objek eksperimen ditemukan bahwa monyet yang memiliki perubahan paling dramatis karena pada percobaan pertama hewan ini membutuhkan waktu 36 menit untuk membuka kotak dan pada percobaan kedua hewan ini hanya membutuhkan waktu 2 menit 20 detik untuk membuka kotak.
Hukum Belajar
Dalam percobaan eksperimen yang dilakukan Thorndike dapat disimpilkan bahwa respons yang tepat secara perlahan akan “tertanam” sedangkan respon yang tidak tepat melemah atau “terkikis”. Berdasarkan asumsi tersebut Thorndike mengidentifikasi 3 hukum belajar:
1.       Law of effect (keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat dan sebaliknya).
2.       Law of exercise (repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon yang benar).
3.       Law of readiness (kondisi yang mengatur keadaan disebut “memuaskan” atau “menjengkelkan”)
Aplikasi ke belajar di Sekolah
Teori koneksionisme Thorndike dapat diaplikasikan dalam kegiatan belajar disekolah, namun karena teori ini juga mencakup referensi ke kejadian mental sehingga teori ini berada di tengah-tengah antara perspektif kognitif dan behavioris. Penerapan teori ini  berupa koneksi antar ide-ide yang akan menghasilkan pengetahuan, contoh 1 x 1 = ½ x 2. Selain itu Thorndike juga menggungkapkan bahwa respon yang sering muncul merupakan awal terhadap stimulus (hukum respons berganda) serta transfer of learning dimana dinyatakan bahwa latihan untuk tugas tertentu akan membantu proses belajar.
Psikologi Gestalt
Fokus riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa :
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana.
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering mentransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas.
Konsep Dasar
Chisrian von Ehrenfels (1890) dalam sebuah makalah menunjukkan bahwa kualitas akan tampak dalam persepsi bersamaan dengan elemen-elemen yang terindra secara terpisah dari suatu pengalaman, contohnya, sebuah melodi menggunakan kunci yang berbeda namun melodi tersebut dikenal sebagai kesatuan. Istilah untuk proses ini disebut Gestaltqualitat yaitu “kualitas yang diberikan oleh sebuah pola”. Ada 4 asumsi dasar dari perspektif Gestalt :
1.       Yang harus dipelajari adalah perilaku molar bukan perilaku molecular.
2.       Organisme merespon stimuli yang tersegregasi bukan stimuli spesifik.
3.       Lingkungan behavioral adalah realitas subjek.
4.       Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekutan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Hukum Organisasi Perseptual
Gestalt berpendapat bahwa tugas utama psikologi adalah mengetahui bagaimana individu secara psikologis memahami atau mempresepsi lingkungan geografis. Hukum Gestalt dasar, yakni hukum Pragnanz (pengorganisasian psikologis terhaddap kelompok stimuli)  dan hukum terkait primer (visual mempengaruhi persepsi).
Riset tentang Belajar dan Pemecahan Masalah
Psikologi Gestalt memiliki beberapa konsep dalam memahami pemecahan masalah yaitu pertama, konsep wawasan yang melibatkan reorganisasi persepsi sesorang untuk melihat solusi. Kedua, analisis kontemporer mengindikasikan pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan dan pengkajian lebih lanjut.
Belajar Berubah-ubah dan Bermakna
Dalam mengaplikasi konsep struktur dan keseluruhan ke dalam analisis belajar, Weitheimer membedakan antara metode belajar :tanpa makna” dan belajar “bermakna” di kelas. Weitheimer mengamati bahwa setelah anak mempelajari pendekatan pemecahan masalah tertentu, mereka sering kali tidak mampu melihat pendekatan lain untuk tugas serupa. Mereka biasanya akan berkata “kami belum tahu.” Penyediaan informasi yang membantu siswa untuk mereorganisasikan sudut pandang masalah harus menjadi bagian integral dari pengajaran pemecahan masalah.      
Faktor-faktor Spesifik dalam Pemencahan Masalah
                Teoritisi Gestalt lainnya mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi persepsi dalam pemecahan masalah. Konsep yang relevan untuk kelas saat ini adalah latihan mentransfer, pendekatan masalah dan kekakuan fungsional, dan belenggu masalah.
Latihan mentransfer. Efek dari cara-cara yang berbeda untuk menunjukkan solusi masalah keterampilan pemecahan masalah diteiliti oleh George Katona. Ia mengidentifikasi bahwa metode yang disebutnya sebagai “penemuan dengan panduan” adalah metode yang paling efektif.
Pendekatan masalah dan kekakuan fungsional. Karl Duncker (1926) mencatat bahwa kebanyakan teori berusaha menjelaskan pemecahan masalah yang berkenaan dengan “factor ketiga.” Akan tetapi analisis Duncker terhadap pemecahan masalah yang sukses mengidentifikasikan ada tiga langkah umum. Langkah itu adalah :
a.       Memahami konflik atau masalah
b.      Mengembangkan identifikasi secara jelas atau kesulitan dasar
c.       Mengembangkan solusi masalah untuk mengatasi kesulitan dasar
Solusi itu menurutnya adalah ontoh dari pemikiran produktif dan disebut sebagai solusi dengan nilai fungsional. Siswa yang tidak mampu memahami elemen-elemen situasi dengan cara baru disebut sebagai mengidap kekakuan fungsional.
Belenggu masalah. Kekakuan fungsional adalah kesulitan perceptual dalam pemecahan masalah. Konsep yang terkait adalah belenggu masalah. Konsep ini diidentifikasi oleh Abraham Lunchins (1942), yang diartikan sebagai kekakuan dalam pemecahan masalah karena individu menganggap serangkaian masalah harus dipecahkan dengan cara yang sama.
Perkembangan Lain
Kofka (1935) berpendapat bahwa organisasi bidang dalam persepsi juga berlaku untuk formasi kelompok. Maier (1970) meneliti dinamika pemecahan masalah dalam latar tempat kerja, termasuk penyelia dan karyawan. Kurt Lewin membahas motivasi, dan karyanya menimbulkan perhatian pada konsep dinamika kelompok. Konsep dasarnya adalah B=f (P,E). Albert Bandura menggunakan rumus ini dalam analisisnya terhadap belajar dalam latar sosial. E. Tolman (1932), menyebut karyanya sebagai “subvariasi dari psikologi Gestalt.” Dua istilah yang diperkenalkan Tolman adalah belajar laten dan peta kognitif.
Perbandingan Antara Behaviorisme dan Teori Gestalt
                Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda menegnai sifat dan belajar dan focus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset. Sebaliknya, psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespon stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah factor penting untuk memecahkan masalah.

Karakteristik Utama
Behaviorisme
Teori Gestalt
Asumsi dasar
a.       Perilaku yang dapat diamati, bukan even sadar atau mental, harus dipelajari.
b.      Belajar adalah perubahan.
c.       Hubungan antara stimuli dan respons harus dipelajari.
Individu bereaksi terhadap sebuah kesatuan; karena itu, pemelajaran adalah organisasi  dan reorganisasi bidang sendoris. Kesatuan tersebut memiliki property baru yang berbeda dari yang ada pada elemen tersebut.
Eksperimen umum
a.       Trial and error
b.      Respon emosional atau refleks.
Mengorganisasikan kembali : subjek ditempatkan dalam situasi yang mensyaratkan restrukturisasi bagi solusi.
Formula belajar
a.       Stimulus – respon – imbalan.
b.      Respon emosional :
Stimulus 1 + stimulus 2 = respon.
Konstelasi stimuli – organisasi - reaksi

Rabu, 26 September 2012

Tugas Individu (Tabel 1.2 & Gambar 1.1)

1. Contoh berdasarkan pengalaman pribadi


a. Sebagai Kerangka riset
--> Pengalaman saya ketika saya duduk di baris kursi paling depan dan duduk di kursi paling belakang, dimana saya melihat respon dosen ketika presentasi. Apakah dosen lebih sering bertanya pada orang-orang yang duduk di kursi barisan paling depan ataukah dosen lebih sering bertanya pada dosen yang duduk pada kursi bagian belakang.

b. Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi (positif reinforcement- negatif reinforcement)
--> Pengalaman saya ketika saya masih kecil, saya lebih bisa menangkap pengajaran ketika diberi suatu iming-iming, seperti misalnya kalau nanti rangking 1 akan mendapat hadiah, sedangkan pada adik saya, dia lebih bisa menangkap pengajaran itu jika diancam misalnya kalau kamu tidak mendapat rangking 10 besar, kamu akan dihukum.

c. Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
--> Ketika masih SD saya bisa dikatakan anak yang susah sekali menghafal perkalian namun saat saya les, guru terus menerus menyuruh menghafal perkalian disetiap selesai les, sehingga saya akhirnya mampu menghafal perkalian tersebut.

d.  Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
--> Ketika saya sedang training kerja, saya mendapatkan gaji yang tetap sehingga saya tidak begitu termotivasi. Lalu sekarang saya sudah menjadi pekerja tetap, gaji yang saya dapatkan pun tergantung pada seberapa sering saya tampil dipanggung dan berapa jam saya mengajar, murid yang saya ajar ada berapa orang. Berarti hal ini menjelaskan perkembangan dari teori Skinner tentang reinforcement schedule.

e. Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
--> Ketika saya belajar tentang teori belajar Skinner, saya mengerti apa beda punishment dengan reinforcement negatif.



2. Kaitan pengalaman dengan perspektif psikologis
Kalau dari semua pengalaman dihubungkan dengan perspektif psikologis, saya menghubungkannya dengan perspektif behavioris, karena dari pengalaman-pengalaman saya, saya mengambil teori dari Skinner dimana adanya penguatan-penguatan, adanya pembelajaran operan dan adanya reinforcement schedule.

Rabu, 12 September 2012

Tugas Analisis Kelompok

Kelompok 4:
Deepraj Kaur (10-051)
Venti Ayu Wibawa (10-070)
Riana Octhaviany (10-079)

Berdasarkan analisis kasus yang telah diperoleh dari masing-masing anggota kelompok maka kami menyimpulkan bahwa:
Sebenarnya setiap anak itu unik dimana mereka dapat memahami atau dapat dibentuk perilakunya dengan menggunakan metode yang berbeda untuk setiap anak. Misalnya ada anak yang harus diberi punishment dan reward terlebih dahulu untuk dapat memahami materi yang diajarkan oleh gurunya, ada juga anak yang harus diberikan reward berupa pujian dan senyuman saja untuk memacu motivasi mereka dalam memahami pelajaran serta ada anak yang dapat diajarkan dengan metode hukuman dan ada juga yang semakin merosot turun kemampuan akademisnya ketika diberi hukuman.
Metode yang dikemukakan oleh Skinner cukup sesuai untuk diterapkan pada metode pengajaran sehari-hari karena memiliki berbagai cara untuk menguatkan perilaku positif dan menghilangkan perilaku negatif. Namun, kelompok kami lebih menyoroti metode pemberian hukuman yang dikemukakan oleh Skinner dimana pada teorinya Skinner meyatakan bahwa pemberian hukuman dapat mengurangi perilaku negatif/ yang tidak diinginkan namun pada prakteknya sering sekali guru memberikan hukuman yang berlebihan kepada muridnya yang menyebabkan murid justru menjadi pasif dan merasa tidak aman jika mereka berada disekolah.

Selasa, 11 September 2012

Pengalaman individu

Pengalaman:
Ketika saya kelas 5 SD saya  pern ah mendapatkan nilai 20 (merah) untuk pelajaran bahasa indonesia. Ketika itu saya tidak sekolah selama 2 minggu dikarenakan sakit yang cukup parah sehingga terpaksa harus libur sementara. Sewaktu saya masuk sekolah, saya tidak memiliki persiapan untuk ujian bahasa indonesia sehingga nilai yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Saat pembagian rapor, nilai saya bisa dikatakan semunya tinggi kecuali pelajaran bahasa indonesia. Karena saya takut dimarahi orangtua saya menandatangani rapor tersebut dengan menirukan tanda tangn mama dan mengembalikannya ke wali kelas. Namun sayangnya wali kelas saya menyadari apa yang saya lakukan dan melaporkannya pada orang tua saya. Ketika dirumah, orang tua saya memarahi dan menasehati saya bahwa nilai merah bukan masalah dan yang terpenting saya sudah usaha dan tidak menandatangani rapor sendiri lagi.

Pembahasan:
Dalam pembahasan dengan teori Skinner dikatakan bahwa penguatan ada penguatan positif dan juga penguatan negatif. Dalam hal ini, orang tua saya memperkuat perilaku melalui penghentian atau penghilangan perilaku. Kemudian setelah dinasehati oleh orang tua saya, saya pun bisa dikatakan lebih berusaha untuk mendapatkan mana yang lebih baik dan tidak mendapat nilai merah lagi dan saya selalu memberikan rapor saya pada orang tua saya dan jika ada nilai merah saya mencoba jujur dan memberikan rapor tersebut kepada orang tua saya.
Dalam kasus ini juga saya melakukan escape behavior dimana memberi respon yang menimbulkan penghentian dan penghilangan stimulus diskriminatif, misalnya belajar agar tidak mendapat nilai merah dan agar dapat menghilangkan sikap untuk tidak memberi rapor pada orang tua.

Teori Proses Belajar Skinner


Nama kelompok :

ANALISIS EKSPERIMENTAL PADA PERILAKU
Skinner menyebut refleksi seseorang sebagai elicited response (respon yang dimunculkan) karena respon ini otomatis dipicu oleh stimulus tertentu, contohnya kaki yang diketuk palu akan memberikan reflek menendang.
Skinner juga menamakan perilaku sebagai emitted response (respon yang dikeluarkan), namun periset harus memanipulasi kejadian - kejadian yang dapat diamati dalam latar yang dikontrol, contohnya mengendarai mobil, bersenandung sambil menyanyi.

Riset yang ditemukan Skinner mengindikasikan bahwa outcome yang dihasilkan oleh suatu respon adalah peristiwa yang mengubah perilaku. Perilaku yang dilakukan secara umum merupakan perilaku yang terjadi setelah adanya penguatan
Ada 4 faktor dalam penguasaan pola perilaku:
1) Faktor Pembentukan
2) Jadwal Penguatan
Penguatan itu sendiri harus diberikan dengan jadwal yang sesuai dengan perilaku apa yang ingin ditimbulkan. Jadwal penguatan terdiri atas penguatan rasio, penguatan variabel, dan yang efektif  penguatan variabel-rasio.  
  • Penguatan rasio --> penguatan yang dilakukan dengan cara memberikan reward setiap rasio tertentu misalnya setiap 5 menit sekali dsb.
  • Penguatan variabel --> penguatan rasio ataupun interval dimana respon menlambat pada awalnya kemudian disusul dengan rata” yang meningkat.
  • Penguatan Variabel-rasio --> penguatan yang pada awalnya sering diberikan dan kemudian dikurangi pemberiannya.
Skinner mengganti istilah imbalan dengan istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcing consequences) dan penguatan (reinforcement), dan mendefinisikannya dalam makna kaitannya dengan perilaku.
3) Konsep Kegunaan Negatif
4) Perilaku yang diatur peraturan

Skinner mengidentifikasikan 3 komponen belajar sebagai :
  • Stimulus diskriminatif  
  • Respons (R)
  • Stimulus penguat 



Dalam penguatan yang kita lakukan tidak selamanya berfungsi dalam hal yang positif sebagian juga dapat berdampak negatif misalnya jadwal penguatan variabel rasio yang digunakan untuk burung merpati agar dapat mematuk cawan jika burung tersebut terus menerus mematuk cawan sampai memaksakan diri maka paruhnya akan bengkak hal ini lah yang disebut dengan konsep kegunaan negatif. Konsep kegunaan negatif merupakan efek negatif / efek yang tidak diharapkan dari proses penguatan yang dilakukan. Selain penguatan salah satu cara kita untuk mengatur atau membetuk perilaku adalah dengan menggunakan peraturan. Perilaku yang diatur peraturan (Rule-Govern) secara kita sadari atau tidak sudah memberntuk perilaku kita misalnya kita selalu hadir tepat waktu pada perkuliahan karena peraturannya tidak memperbolehkan untuk terlambat.

PRINSIP PEMBELAJARAN
Skinner tertarik dengan pendidikan ketika putrinya sekolah dan ia mulai menggunakan dan mengembangkan teknik penguatan di ruang kelas dengan menggunakan instruksi  serta langkah demi langkat dan alat mekanik yang disebut mesin pengajaran. Pendidikan di sekolah pada umumnya kurang efektif karena hanya menggunakan guru sebagai mesin pengajar dan anak murid bertindak pasif serta jumlah siswa yang melebihi kapasitas dalam satu ruang membuat motivasi siswa menjadi rendah. Oleh karena itu ada beberapa perubahan yang diimplementasikan dengan cara mempersiapkan tahapan belajar yang lebih mirip dengan kehiduapan sehari-hari yang juga problematis. Ketika terjadi permasalahan dikelas guru dapat menggunakan stimuli diskriminatif baik itu stilmuli verbal maupun nonverbal yang dapat mengarahkan perhatian siswa menjadi fokus kembali.  Selain itu aspek penting dari pembelajaran yang sukses adalah guru dapat mentransfer kontrol stimulus yang memberi petunjuk pada diri pelajar.  Yang terpenting dari pembelajaran adalah pemberian penguat alamiah yang tepat. Selain itu pembentukan perilaku dikelas harus diawali dengan spesifikasi yang jelas tentang perilaku yang akan dipelajari, ketrampilan awal diidentifikasi serta pemberian program yang bertahap dan hati-hati. Dalam proses belajar mengajar juga dikenal dengan istilah mesin pengajaran yang dikembangkan oleh skinner dimana yang menjadi favorit adalah komputer yang dianggap dapat memberikan penguatan kepada siswa dengan catatan grafis dan animasi harus dikurangi agar tidak mengganggu perhatian siswa saat belajar.

APLIKASI DALAM PENDIDIKAN
Banyak program manajemen behavioral yang muncul pada 1950-an adalah kombinasi dari pengkondisian berpenguat dengan metode lain. Misalnya, time-out yang merupakan periode mengasingkan individu untuk sementara dari latar yang memberikan penguatan. Teknik ini menggunakan penghilangan penguat, mereka adalah sebentuk hukuman dan menimbulkan efek samping emosi negatif. DISTAR atau yang kini disebut SRA reading mastery merupakan suatu program yang sangat terstruktur dimana anak diajari sesuai dengan level keterampilan mereka.
Karakteristik Pemelajar
Ini merupakan suatu perilaku tertentu yang dibawa siswa ke situasi belajar, dan karakteristik itu mungkin mempengaruhi perolehan perilaku baru, diantaranya :
1.      Perbedaan individual. Dapat berasal dari bakat genetik organisme dan sejarah penguatan tertentu.
2.      Kesiapan belajar
3.      Motivasi

PROSES KOGNITIF DAN PENGAJARAN
Fokus dari pengajarannya ialah :
1.     Transfer belajar. Menurut perspektif skinner, ketika latihan disuatu area keterampilan meningkatkan performa di area lain, elemen yang sama akan diperkuat “setiap kali elemen itu muncul”.
2.   Keterampilan “cara belajar”. Perilaku tertentu yang biasanya diidentifikasi dengan pemikiran harus dianalisis dan diajarkan. Perilaku itu adalah perilaku manajemen diri intelektual (precurrent). Perilaku itu juga bersifat tertutup (covert). Respon precurrent lainnya adalah memperhatikan stimuli, menggarisbawahi ide-ide penting dalam materi teks, dan menata ulang elemen-elemen di dalam suatu situasi masalah sehingga solusinya bisa lebih mungkin diperoleh.
3. Mengajarkan pemecahan masalah. Untuk memaksimalkan kemungkinan solusi, individu harus mengubah situasi sehingga dia dapat merespon dengan cepat. 
Langkah-langkahnya antara lain :
a. mereview masalah secara hati-hati dengan mengklarifikasi kesulitan ;
b. menata ulang komponen-komponen masalah ; dan 
c. mencari kemiripan antara masalah dengan masalah lain yang telah dipecahkan.

Mengembangkan Strategi Kelas
Mengembangkan strategi kelas dapat menggunakan teknologi Skinner dengan 3 cara :
a.       Menggunakan stimuli diskriminatif dan penguatan dalam interaksi di kelas secara tepat.
b.      Mengimplementasikan langkah-langkah pembentukan  di dalam pengajaran.
c.       Menyusun materi pengajaran yang diindividualisasikan.


Rabu, 20 Juni 2012

Evaluasi Kinerja MK.Paedagogi

Kesan : Awalnya ketika saya masuk mata kuliah Pedagogi T.A. 2011/2012 Fakultas Psikologi USU (lebay), saya hanya ingin tau apa sich Pedagogi itu? Karena tidak pernah dengar kata "pedagogi" sebelumnya dari namanya sangat membuat penasaran. Kesan pada saat awal memasuki kontrak kuliah makin penasaran sich, dilihat dosennya bu Dina, pasti ada hubungan-hubungannya dengan pendidikan ni. Karena semester sebelumnya kan bu Dina ajarin Psikologi Pendidikan, dan ternyata perkiraannya bener. Selama mengikuti pelajaran, menyenangkan sich yach berkecimpung di blog-blog lagi. Karena saya yang rada gaptek agak ribet juga urus blog, untungnya ada temen-temen yang mau kasih masukan & bantuan. Jujur urus blog nggak gampang, karena masalah waktu, capek karena banyak kegiatasn, modem lemot, ditambah dengan ada malasnya juga (alasan sendiri dan utama, hahahahahaha).

Pesan-pesannya : mudah-mudahan bisa ditingkatkan lagi bu kegiatan-kegiatan di kelas, soalnya kalo dari pengalaman sich kebanyakan kegiatan posting-posting blog yang banyak bu.

Evaluasi : At all nice bu..menyenangkan juga. Kadang memang merasa ribet kalau udah disuruh blog-blog, tapi sekarang sudah tau caranya menyenangkan juga (dulu kan gaptek soal blog) hehehehe..
Mudah-mudahan bisa lebih menyenangkan dan menarik lagi ke mata kuliah-mata kuliah yang ibu ajarkan nantinya.

Kritik & Saran : Minta dikasih kompensasi donk bu kalau ujian dari blog. Soalnya kyk kemarin pas UTS, jujur dech, karena modem ada masalah jaringan jadinya nggak bisa full jawab soal. (T_T) sedih sich, padahal bukan karena anggap remeh pelajaran ataupun nggak cek blog