animasi blog

Rabu, 12 September 2012

Tugas Analisis Kelompok

Kelompok 4:
Deepraj Kaur (10-051)
Venti Ayu Wibawa (10-070)
Riana Octhaviany (10-079)

Berdasarkan analisis kasus yang telah diperoleh dari masing-masing anggota kelompok maka kami menyimpulkan bahwa:
Sebenarnya setiap anak itu unik dimana mereka dapat memahami atau dapat dibentuk perilakunya dengan menggunakan metode yang berbeda untuk setiap anak. Misalnya ada anak yang harus diberi punishment dan reward terlebih dahulu untuk dapat memahami materi yang diajarkan oleh gurunya, ada juga anak yang harus diberikan reward berupa pujian dan senyuman saja untuk memacu motivasi mereka dalam memahami pelajaran serta ada anak yang dapat diajarkan dengan metode hukuman dan ada juga yang semakin merosot turun kemampuan akademisnya ketika diberi hukuman.
Metode yang dikemukakan oleh Skinner cukup sesuai untuk diterapkan pada metode pengajaran sehari-hari karena memiliki berbagai cara untuk menguatkan perilaku positif dan menghilangkan perilaku negatif. Namun, kelompok kami lebih menyoroti metode pemberian hukuman yang dikemukakan oleh Skinner dimana pada teorinya Skinner meyatakan bahwa pemberian hukuman dapat mengurangi perilaku negatif/ yang tidak diinginkan namun pada prakteknya sering sekali guru memberikan hukuman yang berlebihan kepada muridnya yang menyebabkan murid justru menjadi pasif dan merasa tidak aman jika mereka berada disekolah.

Selasa, 11 September 2012

Pengalaman individu

Pengalaman:
Ketika saya kelas 5 SD saya  pern ah mendapatkan nilai 20 (merah) untuk pelajaran bahasa indonesia. Ketika itu saya tidak sekolah selama 2 minggu dikarenakan sakit yang cukup parah sehingga terpaksa harus libur sementara. Sewaktu saya masuk sekolah, saya tidak memiliki persiapan untuk ujian bahasa indonesia sehingga nilai yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Saat pembagian rapor, nilai saya bisa dikatakan semunya tinggi kecuali pelajaran bahasa indonesia. Karena saya takut dimarahi orangtua saya menandatangani rapor tersebut dengan menirukan tanda tangn mama dan mengembalikannya ke wali kelas. Namun sayangnya wali kelas saya menyadari apa yang saya lakukan dan melaporkannya pada orang tua saya. Ketika dirumah, orang tua saya memarahi dan menasehati saya bahwa nilai merah bukan masalah dan yang terpenting saya sudah usaha dan tidak menandatangani rapor sendiri lagi.

Pembahasan:
Dalam pembahasan dengan teori Skinner dikatakan bahwa penguatan ada penguatan positif dan juga penguatan negatif. Dalam hal ini, orang tua saya memperkuat perilaku melalui penghentian atau penghilangan perilaku. Kemudian setelah dinasehati oleh orang tua saya, saya pun bisa dikatakan lebih berusaha untuk mendapatkan mana yang lebih baik dan tidak mendapat nilai merah lagi dan saya selalu memberikan rapor saya pada orang tua saya dan jika ada nilai merah saya mencoba jujur dan memberikan rapor tersebut kepada orang tua saya.
Dalam kasus ini juga saya melakukan escape behavior dimana memberi respon yang menimbulkan penghentian dan penghilangan stimulus diskriminatif, misalnya belajar agar tidak mendapat nilai merah dan agar dapat menghilangkan sikap untuk tidak memberi rapor pada orang tua.

Teori Proses Belajar Skinner


Nama kelompok :

ANALISIS EKSPERIMENTAL PADA PERILAKU
Skinner menyebut refleksi seseorang sebagai elicited response (respon yang dimunculkan) karena respon ini otomatis dipicu oleh stimulus tertentu, contohnya kaki yang diketuk palu akan memberikan reflek menendang.
Skinner juga menamakan perilaku sebagai emitted response (respon yang dikeluarkan), namun periset harus memanipulasi kejadian - kejadian yang dapat diamati dalam latar yang dikontrol, contohnya mengendarai mobil, bersenandung sambil menyanyi.

Riset yang ditemukan Skinner mengindikasikan bahwa outcome yang dihasilkan oleh suatu respon adalah peristiwa yang mengubah perilaku. Perilaku yang dilakukan secara umum merupakan perilaku yang terjadi setelah adanya penguatan
Ada 4 faktor dalam penguasaan pola perilaku:
1) Faktor Pembentukan
2) Jadwal Penguatan
Penguatan itu sendiri harus diberikan dengan jadwal yang sesuai dengan perilaku apa yang ingin ditimbulkan. Jadwal penguatan terdiri atas penguatan rasio, penguatan variabel, dan yang efektif  penguatan variabel-rasio.  
  • Penguatan rasio --> penguatan yang dilakukan dengan cara memberikan reward setiap rasio tertentu misalnya setiap 5 menit sekali dsb.
  • Penguatan variabel --> penguatan rasio ataupun interval dimana respon menlambat pada awalnya kemudian disusul dengan rata” yang meningkat.
  • Penguatan Variabel-rasio --> penguatan yang pada awalnya sering diberikan dan kemudian dikurangi pemberiannya.
Skinner mengganti istilah imbalan dengan istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcing consequences) dan penguatan (reinforcement), dan mendefinisikannya dalam makna kaitannya dengan perilaku.
3) Konsep Kegunaan Negatif
4) Perilaku yang diatur peraturan

Skinner mengidentifikasikan 3 komponen belajar sebagai :
  • Stimulus diskriminatif  
  • Respons (R)
  • Stimulus penguat 



Dalam penguatan yang kita lakukan tidak selamanya berfungsi dalam hal yang positif sebagian juga dapat berdampak negatif misalnya jadwal penguatan variabel rasio yang digunakan untuk burung merpati agar dapat mematuk cawan jika burung tersebut terus menerus mematuk cawan sampai memaksakan diri maka paruhnya akan bengkak hal ini lah yang disebut dengan konsep kegunaan negatif. Konsep kegunaan negatif merupakan efek negatif / efek yang tidak diharapkan dari proses penguatan yang dilakukan. Selain penguatan salah satu cara kita untuk mengatur atau membetuk perilaku adalah dengan menggunakan peraturan. Perilaku yang diatur peraturan (Rule-Govern) secara kita sadari atau tidak sudah memberntuk perilaku kita misalnya kita selalu hadir tepat waktu pada perkuliahan karena peraturannya tidak memperbolehkan untuk terlambat.

PRINSIP PEMBELAJARAN
Skinner tertarik dengan pendidikan ketika putrinya sekolah dan ia mulai menggunakan dan mengembangkan teknik penguatan di ruang kelas dengan menggunakan instruksi  serta langkah demi langkat dan alat mekanik yang disebut mesin pengajaran. Pendidikan di sekolah pada umumnya kurang efektif karena hanya menggunakan guru sebagai mesin pengajar dan anak murid bertindak pasif serta jumlah siswa yang melebihi kapasitas dalam satu ruang membuat motivasi siswa menjadi rendah. Oleh karena itu ada beberapa perubahan yang diimplementasikan dengan cara mempersiapkan tahapan belajar yang lebih mirip dengan kehiduapan sehari-hari yang juga problematis. Ketika terjadi permasalahan dikelas guru dapat menggunakan stimuli diskriminatif baik itu stilmuli verbal maupun nonverbal yang dapat mengarahkan perhatian siswa menjadi fokus kembali.  Selain itu aspek penting dari pembelajaran yang sukses adalah guru dapat mentransfer kontrol stimulus yang memberi petunjuk pada diri pelajar.  Yang terpenting dari pembelajaran adalah pemberian penguat alamiah yang tepat. Selain itu pembentukan perilaku dikelas harus diawali dengan spesifikasi yang jelas tentang perilaku yang akan dipelajari, ketrampilan awal diidentifikasi serta pemberian program yang bertahap dan hati-hati. Dalam proses belajar mengajar juga dikenal dengan istilah mesin pengajaran yang dikembangkan oleh skinner dimana yang menjadi favorit adalah komputer yang dianggap dapat memberikan penguatan kepada siswa dengan catatan grafis dan animasi harus dikurangi agar tidak mengganggu perhatian siswa saat belajar.

APLIKASI DALAM PENDIDIKAN
Banyak program manajemen behavioral yang muncul pada 1950-an adalah kombinasi dari pengkondisian berpenguat dengan metode lain. Misalnya, time-out yang merupakan periode mengasingkan individu untuk sementara dari latar yang memberikan penguatan. Teknik ini menggunakan penghilangan penguat, mereka adalah sebentuk hukuman dan menimbulkan efek samping emosi negatif. DISTAR atau yang kini disebut SRA reading mastery merupakan suatu program yang sangat terstruktur dimana anak diajari sesuai dengan level keterampilan mereka.
Karakteristik Pemelajar
Ini merupakan suatu perilaku tertentu yang dibawa siswa ke situasi belajar, dan karakteristik itu mungkin mempengaruhi perolehan perilaku baru, diantaranya :
1.      Perbedaan individual. Dapat berasal dari bakat genetik organisme dan sejarah penguatan tertentu.
2.      Kesiapan belajar
3.      Motivasi

PROSES KOGNITIF DAN PENGAJARAN
Fokus dari pengajarannya ialah :
1.     Transfer belajar. Menurut perspektif skinner, ketika latihan disuatu area keterampilan meningkatkan performa di area lain, elemen yang sama akan diperkuat “setiap kali elemen itu muncul”.
2.   Keterampilan “cara belajar”. Perilaku tertentu yang biasanya diidentifikasi dengan pemikiran harus dianalisis dan diajarkan. Perilaku itu adalah perilaku manajemen diri intelektual (precurrent). Perilaku itu juga bersifat tertutup (covert). Respon precurrent lainnya adalah memperhatikan stimuli, menggarisbawahi ide-ide penting dalam materi teks, dan menata ulang elemen-elemen di dalam suatu situasi masalah sehingga solusinya bisa lebih mungkin diperoleh.
3. Mengajarkan pemecahan masalah. Untuk memaksimalkan kemungkinan solusi, individu harus mengubah situasi sehingga dia dapat merespon dengan cepat. 
Langkah-langkahnya antara lain :
a. mereview masalah secara hati-hati dengan mengklarifikasi kesulitan ;
b. menata ulang komponen-komponen masalah ; dan 
c. mencari kemiripan antara masalah dengan masalah lain yang telah dipecahkan.

Mengembangkan Strategi Kelas
Mengembangkan strategi kelas dapat menggunakan teknologi Skinner dengan 3 cara :
a.       Menggunakan stimuli diskriminatif dan penguatan dalam interaksi di kelas secara tepat.
b.      Mengimplementasikan langkah-langkah pembentukan  di dalam pengajaran.
c.       Menyusun materi pengajaran yang diindividualisasikan.


Rabu, 20 Juni 2012

Evaluasi Kinerja MK.Paedagogi

Kesan : Awalnya ketika saya masuk mata kuliah Pedagogi T.A. 2011/2012 Fakultas Psikologi USU (lebay), saya hanya ingin tau apa sich Pedagogi itu? Karena tidak pernah dengar kata "pedagogi" sebelumnya dari namanya sangat membuat penasaran. Kesan pada saat awal memasuki kontrak kuliah makin penasaran sich, dilihat dosennya bu Dina, pasti ada hubungan-hubungannya dengan pendidikan ni. Karena semester sebelumnya kan bu Dina ajarin Psikologi Pendidikan, dan ternyata perkiraannya bener. Selama mengikuti pelajaran, menyenangkan sich yach berkecimpung di blog-blog lagi. Karena saya yang rada gaptek agak ribet juga urus blog, untungnya ada temen-temen yang mau kasih masukan & bantuan. Jujur urus blog nggak gampang, karena masalah waktu, capek karena banyak kegiatasn, modem lemot, ditambah dengan ada malasnya juga (alasan sendiri dan utama, hahahahahaha).

Pesan-pesannya : mudah-mudahan bisa ditingkatkan lagi bu kegiatan-kegiatan di kelas, soalnya kalo dari pengalaman sich kebanyakan kegiatan posting-posting blog yang banyak bu.

Evaluasi : At all nice bu..menyenangkan juga. Kadang memang merasa ribet kalau udah disuruh blog-blog, tapi sekarang sudah tau caranya menyenangkan juga (dulu kan gaptek soal blog) hehehehe..
Mudah-mudahan bisa lebih menyenangkan dan menarik lagi ke mata kuliah-mata kuliah yang ibu ajarkan nantinya.

Kritik & Saran : Minta dikasih kompensasi donk bu kalau ujian dari blog. Soalnya kyk kemarin pas UTS, jujur dech, karena modem ada masalah jaringan jadinya nggak bisa full jawab soal. (T_T) sedih sich, padahal bukan karena anggap remeh pelajaran ataupun nggak cek blog

Minggu, 10 Juni 2012

Review Presentasi Micro Teaching


KELOMPOK 7

Pertanyaan dan Jawaban Presentasi 
REZA YOGA 
1. Manfaat bagi kelompok adalah mendapatkan praktek lapangan sedangkan ada anggota yang tidak ikut dalam praktek micro teaching, bagaimana kelompok menanggapi hal tersebut? 
Jawab:
Manfaat bagi kelompok seperti yang dipaparkan sebelumnya bukan sekedar manfaat saat melakukan praktek micro teaching secara langsung, melainkan dalam pelaksanaan perencanaan, observasi, melakukan micro teaching, dan juga pembuatan laporan. Selain itu, anggota kelompok yang datang juga ada berbagi pengalaman (sharing) dengan anggota-anggota kelompok lainnya yang berhalangan hadir. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ini memang benar manfaat bagi semua anggota kelompok, meskipun ada anggota yang berhalangan untuk hadir. 

2. Apakah tidak masalah dalam pelaksanaan microteaching jumlah anak adalah 3 orang sedangkan jumlah pengajar banyak? 
Jawab:
Sebenarnya video yang ditampilkan hanyalah video pertemuan kedua. Kami melakukan pertemuan pertama dan pertemuan kedua dimana di pertemuan pertama setiap satu peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Memang di pertemuan kedua kami melakukan seperti yang didokumentasikan, tetapi hal tersebut menurut kelompok tidak terlalu ada masalah karena kami dapat mencairkan suasana yang awalnya cukup kaku menjadi “Fun” bagi peserta didiknya. Selain itu, peserta didik yang semakin aktif di pertemuan kedua ini membuat kami sangat senang dan enjoy dalam mengajarkan micro teaching. 

RAJA MASPIN
1. Apakah manfaat pelaksanaan micro teaching bisa langsung bermanfaat bagi peserta didik? 
Jawab:Mungkin kalau manfaat langsung kami kurang tahu, tetapi kami berusaha membantu peserta didik untuk lebih mengetahui, lebih mengenal, dan lebih mengerti bahasa Inggris atau istilahnya “menanam benih terlebih dahulu”.

OLGA SEPTANIA
1. Bagaimana dengan ongkos seperti yang tertulis dalam slide presentasi? 
Jawab:
Mengenai ongkos termasuk dalam perencanaan kami, tetapi kenyataannya kami tidak menggunakan ongkos sebanyak yang tertera dalam slide presentasi.

KAK KARTIKA
1. Apa standar kompetensi yang digunakan kelompok dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Agar mereka mampu menggunakan bahasa Inggris secara lisan dengan baik dan dapat mengucapkan organ-organ tubuh bagian luar dengan bahasa inggris, terutama organ-organ di bagian kepala.

LIA 
1. Apa tidak berbeda dimana terdapat 3 orang anak dan mereka duduk di kelas yang berbeda-beda?
Jawab:
Dengan rentang usia mereka yang berbeda-beda, kami berusaha memberikan materi belajar yang memang sesuai dengan kemampuan mereka. Teori yang menjadi pegangan kami mungkin bisa menjadi guideline, namun dengan pengalaman yang sudah pernah dialami oleh beberapa anggota kelompok, kami memutuskan untuk memberikan materi berupa conversation singkat (perkenalan diri secara singkat) dan vocabulary yang cukup mudah. Tidak lupa kelompok mengingat usia mereka yang belum bisa berpikir secara abstrak, maka dalam proses belajar mengajar mentransformasikan hal abstrak ke hal yang konkrit. Dengan kata lain, materi yang kami berikan kepada ke-3 peserta didik kami sama dan bisa dipahami oleh mereka semua, tetapi kami memberikan materi tersebut dengan improvisasi-improvisasi dalam prosesnya sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi ke-3 peserta didik tersebut, terutama yang sudah duduk di kelas V SD. 

RIZQA
1. Mengapa dalam pelaksanaan micro teaching tidak menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti di tempat kursus bila dalam kenyataannya jumlah anak yang tersedia untuk pelaksanaan micro teaching kurang banyak? 
Jawab:
Sebenarnya memang bisa saja namun kami memiliki kendala yang cukup banyak diantaranya kesulitan meminta izin pada anak-anak di tempat les sedangkan saat itu mereka sedang menghadapi ujian semester, makanya tidak dapat menggunakan anak-anak didik Weilun dan Steven. Kendala berikutnya adalah lokasi les yang cukup jauh dari kampus ataupun dari rumah masing-masing anggota. Kendala-kendala inilah yang membuat kami untuk mempertimbangkan menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti dalam praktek micro teaching.

IBU DINA
1. Bagaimana dengan anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Untuk anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching ada beberapa cara yang kami lakukan yaitu kami yang terlibat langsung dalam praktek micro teaching membagikan kepada mereka apa yang telah kami dapatkan selama praktek micro teaching. Tujuannya adalah supaya mereka bisa ikut merasakan hal tersebut. Kami juga memberikan tugas tambahan bagi anggota yang tidak hadir misalnya mengedit, membuat laporan, atau lainnya. Tujuan kami melakukan hal ini supaya semua anggota ikut berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan tugas ini dan tiap anggota mendapatkan bagian yang sama serta adil.
2. Dalam video terlihat ketiga orang guru mengajar sambil berdiri pada tiga orang anak didik yang duduk di sofa. Bagaimana perilaku anak didik dan pendidik bila diobservasi?
Jawab:
Sebenarnya yang terlihat dalam video adalah pertemuan ke dua kelompok dengan perserta didik. Pertemuan pertama kelompok dengan peserta didik adalah untuk membentuk rapport dan mencari tahu kesulitan mereka dalam mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Di pertemuan pertama posisi antara peserta didik dan pendidik saling duduk berhadap-hadapan. Satu orang peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Kami berpendapat bahwa memang di pertemuan kedua seperti yang terlihat dalam video bahwa antara pendidik dan peserta didik memang terlihat agak kaku, formal dan posisi pengajar terlalu jauh dengan peserta didik padahal micro teaching tersebut tidak dilakukan di institusi formal, melainkan rumah. Akan tetapi, dalam prosesnya kelompok cukup bisa mencairkan suasana kaku tersebut sehingga di tengah sampai akhir pelaksanaan micro teaching, peserta didik menjadi sangat aktif.

3. Apa sebenarnya pengertian micro teaching bagi kelompok sendiri?
Jawab:
Pengertian micro teaching sebenarnya masih dangkal bagi kelompok. Pengertian micro teaching bagi kelompok pada awalnya hanya sebatas guru mengajar peserta didik dalam posisi dimana guru berdiri dan peserta didik duduk diam. Akan tetapi, setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Dina, kelompok semakin mengerti apa yang menjadi esensi dari micro teaching tersebut dan kelompok menyadari kekurangan kelompok dalam hal seni mengajar yang harusnya merupakan esensi dari tugas micro teaching kali ini.

Kamis, 17 Mei 2012

Revisi Micro Teaching Kelompok 7


KELOMPOK 7 
Dhita                (10-009) 

Steven              (10-025)

Ahmad Fauji        (10-060)

Venti                 (10-070)

Eva                   (10-081)

Putri                 (10-083)

Weillon             (10-123)

TEMA
English For Fun 

OBSERVASI
Observasi pertama dilakukan pada tanggal 15 April 2012. Kelompok mencoba sensasi baru dengan mengumpulkan anak – anak berumur sekitar 6 – 10 tahun di rumah terdekat lalu kelompok mengunjungi salah satu rumah murid untuk melihat dan mencari tahu kesulitan – kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah. Berdasarkan hasil observasi kelompok mengetahui bahwa kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah adalah pelajaran bahasa inggris, matematika dan kewarganegaraan. Dari ketiga pelajaran tersebut, yang menjadi masalah utama adalah bahasa Inggris, sedangkan pelajaran lainnya hanya ditemui pada beberapa murid. Kelompok memutuskan untuk mengajarkan bahasa inggris pada mereka dikunjungan pertama untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dikarenakan kelompok melihat mereka cukup lemah dalam berbahasa inggris. Dan kelompok merasa penting bahwa mereka perlu mengetahui lebih baik dalam berbahasa inggris dengan bahasa inggris yang sudah menjadi bahasa internasional akan memudahkan mereka dalam proses pembelajaran. Kelompok melakukan kunjungan kedua pada hari Sabtu, 21 April 2012 dengan tujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan mereka. 

PERENCANAAN
Konsep micro teaching
1. Landasan Teori
Mulai abad 21, proses pembelajaran dengan konsep micro teaching sudah sangat populer di dunia pendidikan, tetapi kebanyakan para pendidik kurang memahami makna pendidikan. Mereka selama ini hanya sebatas melakukan tugas mereka sebagai pengajar dan melupakan tugas utama mereka sebagai pendidik dan pembimbing. Untuk itulah, perlu diluruskan kembali makna dari proses pendidikan. Oleh karena itu, kami berusaha memahami konsep micro teaching melalui teori guru yang baik, seni dan ilmu mengajar serta paedagogi praktis. Seperti yang diketahui, paedagogi praktis tidak hanya mengetahui apa yang dituliskan di teori tapi dengan mengaplikasikannya dengan melaksanakan micro teaching ini. Bagi pendidik, paedagogi praktis tidak hanya berbicara mengenai seni mengajar melainkan juga mendorong banyak pendidik untuk mendesain ulang pemahaman akan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman. Pendidik harus mempertimbangkan pemberdayaan siswa sebagai penyambung generasi masa depan. Dengan adanya pedagogi praktis,maka konsep pedagogi yang abstrak bisa menjelma menjadi pedagogi yang konkrit yang artinya tidak hanya sekedar dipahami tetapi juga bagaimana cara mengaplikasikannya. Bagi peserta didik,mereka menjadi mampu memahami pedagogi yang konkrit ini dengan bimbingan guru yang baik.
Adapun ciri-ciri guru yang baik itu antara lain:
  • Memiliki kesadaran akan tujuan

  • Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa

  • Mentoleransi ambiguitas

  • Menunjukkan kemampuan beradaptasi dan berubah untuk memenuhi kebutuhan siswa

  • Merasa kurang nyaman jika kurang mengetahui

  • Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka

  • Belajar dari berbagai model

  • Menikmati pekerjaan dan siswa mereka sendiri. 


Untuk menjadi guru yang baik maka pendidik seharusnya memilik beberapa kualitas seperti berikut:
  • Confidence
  • Patience
  • True compassion for their students
  • Understanding
  • The ability to look at life in a different way and to explain a topic in a different way
  • Dedication to excellence
  • Unwavering support 
  • Willingness to help student achieve
  • Pride in student’s accomplishments
  • Passion for life

Apabila seorang guru sudah memilik beberapa ciri-ciri di atas,seorang guru tidak dituntut untuk hanya bisa memiliki pengetahuan teoritis yang tinggi. Tetapi seorang guru juga harus memiliki seni dalam ilmu mengajar. Maksudnya pendidik mampu memahamkan teori kepada peserta didiknya dengan cara yang unik dan menyenangkan. Interaksi yang terjadi diantara peserta didik dan pendidik tidak monoton. Maksudnya dalam proses pendidikan tidak hanya berasal dari guru saja tetapi bisa di dapat dari banyak cara. Dalam proses belajar-mengajar seorang guru tidak hanya ‘asik’ sendiri dalam proses pembelajaran. Tetapi mengajak siswanya untuk ikut berpikir. Selain itu, dalam proses micro teaching seorang guru yang sudah memenuhi ciri-ciri di atas, maka dalam hal meningkatkan motivasi peserta didik, pendidik dapat memberikan reward, baik berupa hadiah maupun pujian. Pendidik senantiasa tersenyum walaupun peserta didik membuat kesalahan agar mereka tidak merasa diremehkan.
2. Tujuan
  • Mengenalkan Bahasa Inggris melalui lisan
  • Mempermudah dalam mempelajari bahasa Inggris
  • Berusaha meningkatkan motivasi dan semangat belajar 

3. ManfaatPeserta didik
  • Mampu berbahasa Inggris yang baik dan benar
  • Mengerti bahwa belajar itu menyenangkan
  • Lebih termotivasi untuk belajar

Kelompok 
  • Untuk dapat memiliki pengalaman mengajar langsung dan dapat mempraktekkan apa yang telah kelompok pelajari selama perkuliahan sehingga kelompok menjadi lebih bisa mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan bagaimana cara mengontrol peserta didik yang akan diajari. 

4. Lokasi
Jl. Dr. Mansyur, Gang Sipirok No. 8C
5. Waktu
Minggu, 15 April 2012 pukul 15.00 – 18.00
Sabtu, 21 April 2012 pukul 12.05 – 15.00
6. Jadwal Kegiatan
14 April 2012: Perencanaan Konsep Micro Teaching
15 April 2012:
  • 15.00 – 15.20 perkenalan
  • 15.20 – 17.50 micro teaching
  • 17.50 – 18.00 penutupan 

21 April 2012:
  • 12.10 – 12.20 perkenalan
  • 12.20 – 14.45 micro teaching
  • 14.45 – 15.00 penutupan 

23 April 2012 - 29 April 2012: Pelaporan hasil kegiatan dan mengedit video
30 April 2012: Posting hasil kegiatan, evaluasi, dan video
7. Perlengkapan
  • Handphone
  • Kamera
  • Alat tulis 

8. Perincian Biaya 
  • Ongkos : 6000 x 7 = 42.000 
  • Reward : 5000 x 4 = 20.000 
  • Jumlah = Rp 62.000,00 

PELAKSANAAN
Pelaksanaan micro teaching kelompok kami sesuai dengan perencanaan yang telah kami rencanakan. Kami melakukan kegiatan micro teaching di salah satu rumah di Jalan Dr. Mansyur Gg. Sipirok no.8c dengan mengumpulkan anak-anak berumur sekitar 6-10 tahun (kelas I, IV, V SD). Kunjungan pertama kami laksanakan pada hari Minggu,15 April 2012. Setiba di lokasi kami memulai pembicaraan dengan orangtua murid dan murid untuk membangun rapport. Setelah rapport mulai terbentuk dan anak sudah mulai bisa untuk menerima kami, kami pun langsung memulai proses mengajar. Awalnya kami mengajar murid satu per satu yang terdiri dari Ferdy, Ata, dan Nila serta membantu mereka memahami dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka di sekolah. Keempat orang teman kami (Weillon, Steven, Eva, dan Fauzi) melihat dan mencari tahu kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah sambil mengajari mereka. Kami menemukan bahwa mereka mengalami kesulitan pada pelajaran bahasa Inggris, Kewarganegaraan, dan Matematika. Akan tetapi, pelajaran yang paling tersulit untuk mereka bertiga adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu, kelompok langsung mengajarkan bagaimana berbahasa inggris yang baik kepada mereka. Setelah kunjungan pertama yang kelompok lakukan pada tanggal 15 April 2012, kami terpikir untuk berkunjung kembali untuk memastikan apa yang telah kami ajarkan. Jadi sekali lagi tanggal 21 April 2012, kelompok melakukan kunjungan kedua dengan tujuan untuk melihat perkembangan mereka terhadap pelajaran bahasa Inggris mereka.
Kunjungan kedua kami laksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2012. Kami memulai perjalanan dari kampus ke lokasi pada jam 12 siang dan tiba di sana sekitar jam 12.10. Setiba di lokasi kami menyapa dengan menyebut nama mereka dan mereka bersemangat menyambut kedatangan kami dengan menggunakan bahasa Inggris. Kami merasa senang tentunya, namun kami tetap membantu mereka meluruskan pronunciation yang masih kurang tepat. Pada kunjungan kedua ini, kelompok bermaksud untuk melihat perkembangan berbahasa mereka setelah kunjugan pertama kelompok tentang bagaimana berbahasa yang baik dan mengajarkan kembali kepada ketiga peserta didik tersebut (Ferdi, Ata, dan Nila) untuk berbicara dalam Bahasa Inggris (conversation). Kami mengajarkan mereka tentang bagaimana untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Ketiga orang teman kami yaitu Weillun, Steven, dan Putri membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Dimulai dengan kata “Hi” untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada mereka arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut dengan mengucapkan salam yaitu “Good Afternoon” sambil tetap menjelaskan arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut lagi dengan alamat rumah, nama sekolah, kelas, cita-cita dan diakhiri dengan sapaan untuk mengakhiri pembicaraan. Dalam mengajarkan conversation ini, tiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara dan bila mereka berhasil mengucapkannya dengan benar kami akan bertepuk tangan dan tersenyum manis. Akan tetapi, bagi yang pengucapannya belum benar, kami tidak menghukum melainkan mengajarkan kembali kepada mereka bagaimana pengucapan yang benar hingga akhirnya mereka bisa mengucapkannya dengan benar.
Setelah selesai mengajarkan conversation tentang perkenalan diri, kami melanjutkan dengan belajar menyebutkan anggota tubuh dalam bahasa Inggris. Disini kami menunjuk salah satu bagian anggota tubuh dan mengatakan pada mereka nama anggota tubuh tersebut dalam bahasa Inggris dan meminta mereka untuk mengulangnya dengan tujuan supaya mereka dapat lebih mengingat nama tersebut. Misalnya Putri menunjuk hidung dan mengatakan “nose”, lalu menanyakan kembali kepada adik-adik tersebut sambil menunjuk hidung “ini apa adik-adik?” Lalu mereka menjawab “nose” dan begitu seterusnya. Dalam mengajarkan hal ini tentu saja kesabaran dibutuhkan karena kemampuan kognitif setiap orang berbeda-beda. Disamping itu untuk menghindari kebosanan selama proses micro teaching ini, kami mengadakan kuis kecil-kecilan yang memberikan reward bagi yang berhasil menjawab apa yang ditanyakan. Namun ketika mereka tidak berhasil menjawab dengan benar, mereka tetap diberi hadiah sambil diberitahukan jawaban yang benar. Di akhir sesi, senyuman terpancar dalam wajah mereka dan mereka berterima kasih kepada kami.
Kelompok merasa apa yang telah kami terapkan memang terbukti sesuai dengan teori, murid senang dengan guru yang bisa mengingat namanya, murid senang dengan guru yang murah senyum, baik, sabar dan tidak mudah marah dan membentak. Kunjugan kedua ini memberikan hasil yang cukup memuaskan, ketiga peserta didik bisa berbahasa Inggris dengan pronunciation yang baik. Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa selama proses kegiatan micro teaching ini kami sebagai guru yang baik memiliki beberapa kualitas yaitu percaya diri yang ditunjukkan selama proses pengajaran, kesabaran, pemahaman, mendukung mereka sepenuhnya, dan memiliki kemauan untuk membantu mereka mencapai keberhasilan.

LAPORAN KEGIATAN
Dari mulai perencanaan dengan berdiskusi tentang konsep micro teaching kelompok, subjek yang menjadi target, dan landasan teori yang menjadi bukti empirik, hingga pada pelaksanaan yang cukup memuaskan menurut kelompok. Menurut kelompok, tanpa perencanaan yang matang serta anggota kelompok yang berkomitmen untuk menyelesaikannya, kelompok merasa ini pasti tidak akan selesai sesuai perencanaan yang sudah meliputi konsep, landasan teori, dan subjek paedagogi apabila ada satu saja kelompok yang tidak bertanggung jawab dan berkomitmen.
Dalam proses pelaksanaan, yang dimulai dari tahap observasi (perkenalan diri dengan subjek paedagogi kelompok) kelompok memulainya dengan “senyuman” dan “friendly approach” serta sering menyebutkan nama mereka saat proses micro teaching berlangsung dengan harapan bisa menimbulkan interaksi antara peserta didik dan pendidik. Obrolan singkat dengan peserta didik membuat kami mengetahui apa yang mereka butuhkan sehingga kelompok memutuskan untuk menyusun strategi apa yang sesuai dengan peserta didik demikian. Kelompok menggunakan konsep guru yang baik dimana sudah kelompok cantumkan dalam landasan teori. Sesuai dengan landasan teori kelompok sehingga kelompok mengaplikasikannya ke dalam micro teaching kali ini.
Beberapa dari ciri-ciri guru yang baik, yang sudah berhasil kelompok terapkan dalam kegiatan micro teaching ini, yaitu
1. Memiliki kesadaran akan tujuan
Dalam kegiatan micro teaching ini kelompok sadar akan tujuan yang dimiliki. Tujuannya adalah dapat menambah pengetahuan mereka mengenai bahasa Inggris dan memudahkan mereka mempelajari bahasa Inggris sehingga dapat bermanfaat untuk ke depannya.
2. Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa
Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa Inggris sudah menjadi bahasa Internasional, maka kami sangat berharap dengan pelajaran yang kami ajarkan ini dapat bermanfaat untuk keberhasilan mereka dalam mencapai cita-cita.
3. Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka
Kelompok berkomitmen untuk mengajar dengan baik dan mengeluarkan kemampuan sepenuhnya untuk mengajar mereka sesuai dengan kemampuan yang dimiliki semksimal dan seoptimal mungkin.
4. Menikmati pekerjaan dan siswa
Kelompok sangat enjoy dalam membawakan materi bahasa Inggris kepada mereka. Kelompok menikmati proses dan juga interaksi yang terjadi diantara pendidik dengan mereka semua. Walaupun cukup susah dalam mengajarkan materi tersebut kepada mereka, tapi pendidik terus berusaha untuk memahamkan materi tersebut kepada mereka. Hal tersebut karena pendidik sangat menikmati tugas mengajar tersebut dan tidak lupa dicerminkan dalam bentuk perilaku sehingga mereka merasakan kesungguhan pendidik dalam proses belajar mengajar.

HASIL PELAKSANAAN
Hasilnya adalah ketika diuji pada saat setelah pendidik selesai menjalankan tugasnya, dibentuklah sebuah kuis untuk menguji mereka dengan cara yang menyenangkan dan asik, yaitu dengan memberikan reward bagi yang berhasil maupun yang tidak berhasil menjawabnya dimana yang berhasil mendapat lebih banyak daripada yang tidak berhasil.
Namun yang menjadi pusat perhatian kelompok, bukanlah seberapa banyak hadiah yang dapat mereka terima, tetapi proses belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan bagi mereka sehingga memahami materi yang pendidik sampaikan dengan perasaan senang. Dan alhasil, pendidik berhasil membuat suasana belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya mampu menjawab dengan berani, tetapi terlihat senyuman rasa senang dan percaya diri yang tersirat dalam wajah dan mata mereka dimana pada awalnya kelompok tidak melihatnya. Ternyata bila mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, orang lain yang menjadi objek perilaku dapat merasakan pengaruhnya.
Pendidik dalam kelompok kami yang dengan sabar mengajarkan materi pada mereka, menetapkan tujuan dari awal sebelum memberikan materi untuk dipelajari pendidik, selalu memberikan harapan pada peserta didiknya, berusaha meningkatkan motivasi, tidak merendahkan kemampuan mereka, berusaha mengerti apa yang sebenarnya yang diinginkan dan dibutuhkan oleh peserta didik. Di usia mereka yang tergolong “children” dimana anak – anak pada usia ini sudah bisa mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, dalam hal ini melihat apakah mereka bisa mengembangkan sifat “autonomy” ataukah “shame and doubt”. Pendidik melihat apapun yang dapat diselesaikan peserta didik selalu dihargai dengan benar dan tepat. Jadi jika mereka memang “benar” maka mendapat pujian yang pantas, namun jika mereka “salah” atau “kurang tepat” mereka tidak dibentak atau dikatain, tetapi tetap mendapat pujian bahwa mereka hampir benar tinggal sedikit lagi. Dengan melakukan ini, kelompok berharap bisa mengembangkan sifat “autonomy” dalam diri daripada “shame and doubt”. Tidak lupa seiring dengan keberhasilan ataupun ketidakberhasilan mereka, pendidik tetap memberikan yang terbaik buat peserta didiknya.
Dengan menerapkan itu semua, kelompok bisa membangkitkan semangat belajar mereka dimana terbukti dalam kunjungan kedua kelompok, peserta didiknya menjadi sedikit rajin dan mulai terlihat percaya diri mulai menunjukkan rasa ingin tahu mereka dimana pada saat kunjungan pertama mereka tidak memberikan pertanyaan sebelum ditanyaain. Ada perbedaan kunjungan pertama dengan kunjungan kedua walupun tidak terlalu signifikan, tetapi tetap terjadi perubahan, dan tentunya ke arah yang lebih baik, kelompok berharap pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.

EVALUASI
Pada saat perencanaan, kami sekelompok merasa seperti dikejar deadline karena belum mempersiapkan konsep sama sekali sampai pada tanggal 14 April 2012 sehingga perencanaan kurang matang dan kelompok kurang siap dalam memulai micro teaching di pertemuan pertama. Akibat perencanaan yang kurang matang tersebut, kami agak kewalahan ketika melakukan micro teaching di pertemuan pertama, seperti tidak mempersiapkan reward dan lain-lain. Di pertemuan kedua, kami juga mengalami sedikit kendala, dimana awalnya kelompok merencanakan mengajari 4 orang anak, namun ternyata yang bersedia mengikuti hanya 3 orang. Ditambah lagi, salah satu dari peserta didik kelompok masih terlalu muda untuk mengikuti materi yang sudah dipersiapkan oleh kelompok, sehingga kelompok harus berimprovisasi dalam memberikan materi. Ternyata improvisasi kami membuahkan hasil, anak-anak tambah semangat dan termotivasi dalam belajar bahasa Inggris. Awalnya kami berpikir bahwa anak-anak yang menjadi subjek kelompok sedikit lemah, namun ternyata mereka lumayan cepat tangkap. Hal tersebut memungkinkan bagi mereka untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Ditambah lagi, mereka sangat patuh, aktif dan kooperatif sehingga kendala mengenai subjek kelompok dapat teratasi dengan baik.
Selain mengenai peserta didik, kendala yang dihadapi kelompok juga berupa peralatan yang digunakan dan masalah yang berasal dari anggota kelompok sendiri. Anggota kelompok yang sangat sibuk dengan urusan masing-masing membuat beberapa anggota kelompok tidak bisa hadir dalam micro teaching tersebut, sehingga kami harus memberikan tugas yang lebih banyak pada anggota yang hadir. Kamera yang digunakan juga tidak berkualitas bagus, sehingga dokumentasi audio visual yang kita dapatkan tidak terlalu sempurna dan hal ini mengakibatkan video editan kami tidak terlalu bagus. 

HARAPAN KELOMPOK
Harapan kelompok adalah bahwa pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkandan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.




TESTIMONI KELOMPOK

Dhita
Tugas pedagogi ini sangat membutuhkan persiapan mental yang baik. untuk mencoba menjadi guru yang baik untuk para anak didikan. konsep micro teaching harus dilaksanakan semampu mungkin untuk menghasilkan sebuah hasil yang baik dan sesuai dengan yang diinginkan. kami berharap adik-adik sedikit atau banyaknya terbantu dengan micro teaching ini. Dengan tugas pedagogi ini dapat menambah wawasan untuk tetap percaya diri dan terus mengembangkan ilmu pendidikan.


Steven
Secara keseluruhan, pelaksanaan micro teaching cukup menarik. Dengan adanya micro teaching, teori-teori yang dipelajari di dalam perkuliahan tidak hanya disimpan di dalam otak sebagai konsep yang abstrak, tetapi juga menjadi konsep yang konkrit dan praktis. Selama observasi dan action plan (Perencanaan), kelompok cukup mengalami kesulitan dalam menentukan topik dan subjek yang akan kami ajari. Selain itu, karena ketidakdisiplinan kelompok, kami pun harus membuat perencanaan secepatnya karena deadline untuk tugas tersebut sudah dekat. Perdebatan sering terjadi dalam proses perencanaan, akan tetapi hal tersebut justru membuat semua anggota kelompok menjadi lebih kritis. Setiap anggota kelompok saling mengemukakan pendapatnya masing-masing dan dievaluasi bersama-sama oleh kelompok. Setelah melewati proses diskusi yang cukup panjang, akhirnya klompok berhasil mendapatkan konsep micro teaching yang telah disepakati bersama.Selama proses pelaksanaan, kami jugaa mengalami kesulitan terutama dalam hal mengatur waktunya. Anggota kelompok yang masing-masing mempunyai jadwal pribadi sendiri, membuat kami cukup kesulitan dalam mengatur waktu yang tepat untuk melakukan micro teaching. Selain itu, kondisi di lapangan ketika melaksanakan micro teaching juga menjadi masalah bagi kelompok. Tingkat pengetahuan yang berbeda-beda diantara subjek yang kami pilih membuat kami kesulitan dalam mengajarkan materi yang sesuai untuk mereka.Walaupun begitu, kami tetap berusaha untuk mencari materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan memahamkannya kepada mereka semua. Proses pelaksanaan yang kami laksanakan cukup lama karena menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam untuk masing-masing pertemuan. Walaupun melelahkan, kami cukup menikmati proses pelaksanaan micro teaching ini.Dalam proses penyusunan laporan, kondisi internet yang lambat dan keterbatasan blog membuat kami cukup   mengalami kesulitan. Blog tidak mampu menampung video yang kapasitasnya sangat besar sehingga kami harus memikirkan alternatif lain untuk bisa mengisi video ke dalam postingan tugas micro teaching. Selain itu, pembagian tugas untuk membuat laporan yang tidak merata juga membuat kelompok mengalami sedikit konflik. Akan tetapi, setelah perdebatan yang cukup panjang kami pun berhasil membuat kesepakatan tentag pembagian tugas laporan ini sehingga laporan dapat diselesaikan secara maksimal tepat pada waktunya.

Ahmad Fauji
Tugas pedagogi kali ini membutuhkan perjuangan yang lumayan besar. Untuk menjadi seorang pengajar yang baik tidak mudah,dibutuhkan kesabaran dan trik-trik sendiri. Murid yang kami ajar tidak terlalu banyak,tetapi mengontrol dan membuat mereka supaya patuh sangat sulit sekali.Banyak pelajaran yang di dapat dari tugas ini, seperti dapat pengalaman baru, ilmu baru, dan teman baru meskipun saya sering bertemu tapi kami jarang berkomunikasi,tetapi setelah pelaksanaan tugas ini saya menjadi sering berkomunikasi dengan anak-anak itu.Secara keseluruhan saya menikmati tugas ini.

Venti
Dalam pelaksanaan micro teaching ini kesan yang saya dapatkan sangatlah menyenangkan juga melelahkan, senang sekali bisa mendapat pengalaman seperti ini. Saya juga berharap agar saya dapat mengaplikasikan pengalaman yang saya dapatkan ini dalam kehidupan sehari-hari saya khususnya dalam mengajar murid-murid saya. Saya juga berharap agar saya dapat menjadi guru yang baik bagi murid-murid saya.

Putri
Micro Teaching kali ini menjadi pengalaman yang baru bagi saya dan kelompok. Mengajari anak - anak yang belum dikenal tidak semudah berinteraksi dentan anak - anak yang sudah dikenal sebelumnya. butuh pengenalan dan adapatasi terlebih dahulu dengan mereka. Untung saja anak - anak yang menjadi peserta didik saya di micro teaching kali ini termasuk supel, dan mudah beradaptasi, sehingga kami lebih mudah dekat dengan mereka. Selain itu saya juga harus berupaya mengaplikasikan metode - metode yang sudah diajarkan di mata kuliah paedagogi. Saya dan teman sekelompok juga harus berupaya menajdi guru yang baik sehingga poelajaran yang kami berikan bisa masuk ke dalam pikiran peserta didik dan peserta didik bisa mengingatnya dan mengaplikasikannya dalam sehari - hari.Mengetahui bahwa bahasa Inggris adalah bahasa global yang semua orang harus bisa menggunakannya, maka kami lebih berfokus untuk mengajarkan pelajaran Bahasa Inggrris ke peserta didik. Dengan mengusung "English for fun" kami mencobamemperkenalkan kepada peserta bahasa didik bahwa Bahasa Inggris itu tidak terlalu susah dan bahkan bisa menyenangkan. Bagaimana caranya? Saya dan kelompok memberikan reward kepada anak - anak yang mampu mengingat pelajaran yang sudah kami berikan sebelumnya. Saya dan kelompok memberikan peajaran vocabulary dan introduciton kepada peserta didik dengan harapan pelajaran yang kami berikan bisa mereka palikasikan dan membuat mereka semakin rajin belajar bahasa Inggris.Intinya micro teaching kali ini cukup menyenangkan dan menambah ilmu saya dan teman - teman saya terutama dalam hal mengajar anak - anak.

Weillon
Lumayan seru, capek sudah pasti tapi menyenangkan. Saya merasa dengan adanya micro teaching ini, sepertinya kita kembali ke masa anak - anak. Spontan dan jujur dalam berkata-kata dan bertindak. Tidak hanya begitu saja, banyak pengalaman yang bisa diaplikasikan, seperti cara mengajar yang efektif, profil guru yang baik dan ideal itu sebenarnya seperti apa. Dimana sebenarnya guru yang baik itu, tidak perlu berpengetahuan tinggi dan berkompeten sekali, namun seorang guru harus memiliki tanggung jawab dan komitmen. Tidak perlu jauh-jauh mengambil pendekatan, prinsip teori belajar saja bisa menjadi contoh yang relevan. Pemberian stimulus-respon yang sederhana dengan menyebutkan "nama" dan memberi "senyuman" dan "dukungan" dapat memberikan reinforcement yang positif bagi mereka agar mereka menjadi semangat  dan serius belajar. Pokoknya program kegiatan micro teaching kali ini sangatlah bermanfaat bagi saya baik dalam hal pengalaman dan pengetahuan.